Children

children

Permasalahan overcrowding berdampak buruk pada Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), tidak terkecuali bagi anak-anak yang dibina dalam Lembaga Pemasyarakatan. LPKA sebagai tempat pembinaan khusus bagi anak pun tidak luput dari kondisi overcrowding, meskipun jika berdasarkan data dari Ditjenpas per tahun 2020 overcrowding ini hanya terjadi di 2 LPKA, yaitu LPKA Kelas II Maros dan LPKA Kelas II Palu. Selain harus menghadapi kondisi overcrowding, Anak Didik Pemasyarakatan (Andikpas) dalam praktiknya juga masih sering ditempatkan bercampur dengan WBP dewasa dan menjadikan mereka sebagai golongan yang rentan. Hal ini karena penahanan anak-anak yang dicampur dengan tempat penahanan orang dewasa berpotensi menempatkan anak pada situasi rawan dan menjadi korban berbagai tindak kekerasan, bahkan dapat memicu keterlibatan anak dalam kejahatan (Adistia & Nurdayasakti, 2015). Untuk itu, anak-anak perlu ditempatkan dalam tempat terpisah seperti LPKA dan LPAS. 

Berdasarkan data dari Sistem Database Pemasyarakatan (SDP) pada bulan Februari 2022, terdapat 310 Andikpas yang berada di LPAS dan 1.067 Andikpas ada di LPKA. Meski berada di LPKA dan LPAS, Andikpas tetap diperlakukan sebagaimana anak lainnya, sehingga mereka tetap mendapatkan hak-haknya seperti akses ke pendidikan dan pengembangan diri. Dari jumlah tersebut, terdapat 645 Andikpas yang merupakan Peserta Pendidikan, 896 mengikuti Pembinaan Jasmani, 844 mengikuti Pembinaan Rohani, 320 merupakan Peserta Konseling, 439 Peserta Keterampilan dan 375 mengikuti Kegiatan Bakat Seni. Program pembinaan ini diberikan dengan tujuan untuk memenuhi hak dan kebutuhan para Andikpas. Dengan demikian, diharapkan mereka dapat mengembangkan potensi diri, dan dapat mendatangkan manfaat ketika mereka melakukan reintegrasi.

Kondisi overcrowding dapat berdampak pada tidak maksimalnya pemberian fasilitas pada Andikpas. Terlebih di masa Pandemi Covid-19 ini, anak menjadi lebih rentan terpapar Covid-19 (Kompas, 2020). Selain melalui Permenkumham No. 10 tahun 2020, mempersingkat pembinaan di LPKA dan menghindarkan anak dari masuk ke LPKA (diversi) juga dinilai dapat berdampak positif untuk penurunan tingkat overcrowding dan anak yang berkaitan. Terutama bagi anak yang masih dalam tahap pembentukan pribadi, label dan stigma negatif dapat menyulitkan anak untuk terintegrasi kembali ke masyarakat. Kesejahteraan dan kepentingan anak harus menjadi pertimbangan pertama dan terpenting dari pembinaan bagi anak, sehingga anak bisa tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik, serta tidak mengulang kesalahan yang sebelumnya pernah ia lakukan.